Ahirnya aku menginjakkan kembali langkahku di rumahku ini. Udara Banjarnegara yang dingin rasa-rasanya membuatku menjadi hanya ingin tidur seharian penuh. Tapi, aku sadar telah lama aku tak bercanda dengan nuro, iguanaku reptil kesayangan. Aku beranjak untuk menghampiri dan memegangnya, tapi yang aku peroleh adalah penolakkan darinya. Benar-benar mirip manusia. Nuro menghindar dan menepis tanganku dengan tangannya layaknya manusia. Memang kaget pada awalnya, ditambah ketika aku lihat seringai ganasnya dan seketika ia mulai melebarkan jengger bawahnya yang manandakan ia tak mau diusik dan pertanda peperangan.
Aku tahu, ia bersikap dingin padaku karena aku jarang menjumpainya. Tapi itu juga karena situasi yang menyebabkan itu terjadi. Ya, selama ini aku di Semarang meninglkannya, tapi aku harap ia maklum kenapa aku di Semarang. Aku, dengan perlahan dan terus menerus membelainya. Dengan sabar dan terus tanpa keraguan. Walaupun pada ahirnya, aku mendapatkan 5 cakaran darinya. Aku tak menyerah, tetap membelai dan mengajak berbicara. Pada ahirnya aku menang, ia kemudian tunduk dan takluk kembali padaku. Kemudian, aku bisa menganggkat dan mengajaknya bercanda kembali. Nuro sudah tumbuh besar sekarang...
Nuro, aku tahu benar dia, dia akan sangat marah jika aku mulai sibuk dan asyik mengurus kadal-kadal liarku. Dia sangat pencemburu seperti manusia pada umumnya, itu yang membuatku ingin selalu tertawa. Yang aku dapat dan tahu adalah, hewan itu seperti kita. Mereka merasakan yang kita rasakan. Jika ia dibaiki, ia akan baik dan jika kita jahat ia pun akan jahat pada kita.
Walaupun aku suka dengan semua reptil, walupun aku sering bermain dengan hewan lain, baik reptil ataupun bukan, tetap....
Aku akan tetap memilih Nuro, iguanaku :)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar